PENGERTIAN
Menurut National Institute of
Health, USA kesulitan belajar adalah hambatan/gangguan belajar pada seorang
anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara
taraf intelejensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Lebih lanjut
dijelaskan bahwa kesulitan belajar kemungkinan disebabkan oleh gangguan di
dalam sisem saraf pusat otak yang dapat menimbulkan genggauan perkembangan
seperti gangguan perkembangan berbicara, membaca, menulis, pemahaman, dan
berhitung.
Aktivitas belajar bagi setiap
individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar,
kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari,
kadang-kadang terasaa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang tinggi, tetapi
terkadang juga sulit untuk konsentrasi
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor
inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan
oleh faktor-faktor non inteligensi. Karena dalam kenyataannya cukup banyak anak
didik yang memiliki inteligensi yang tinggi, tetapi hasil belajarnya rendah
(jauh dari yang diharapkan). Dan juga banyak anak didik dengan inteligensi yang
rata-rata normal tetapi dapat meraih prestasi belajar yang tinggi melebihi
kepandaian anak didik dengan inteligensi yang tinggi. Dengan demikian, IQ yang
tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.[1]
PENYEBAB
Fenomen kesulitan belajar dapat dilihat dari menurunnya penampilan akademik atau prestasi belajarnya. Selain itu, kesulitan belajar dapat dilihat adanya atau munculnya perilaku yang tidak biasa siswa seperti suka berteriak di ruang kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah serta sering kabur dari sekolah. Syah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1. Faktor internal siswa, yakni hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa itu sendiri.
2. Faktor eksternal siswa, yakni hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari luar siswa itu sendiri.[1]
Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut di bawah ini:
a.
Faktor
internal siswa
Faktor internal
siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:
1)
Yang
bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnnya kapasitas
intelektual siswa.
2)
Yang
bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap
3) Yang
bersikap psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat
indera penglihatan dan pendengaran
b.
Faktor
eksternal siswa
Faktor
eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkugan sekitar yang tidak
mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dibagi menjadi tiga macam:
1)
Ligkungan
keluarga, contohnya; ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2)
Lingkungan
masyarakat, contohnya; wilayah perkampungan kumuh/kotor, dan teman sepermainan
atau sepergaulan yang nakal.
3) Lingkungan
sekolah, contohnya; kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat
pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendh.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula
faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara
faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom
psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Menurut
Reber, sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya
keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar, yaitu
1.
Disleksia
(dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.
2.
Disgrafia
(dysgraphia), yakni ketidak mampuan belajar menulis.
3.
Diskalkulia
(dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.[2]
Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahan di antaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karena itu, kesulitan belajar siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak.
Menurut Sternberg, otak sangat berperan penting terhadap pemrosesan kognitif siswa karena otak adalah organ dalam tubuh kita yang mengontrol langsung pikiran, emosi, dan motivasi kita. Dengan demikian, gangguan sedikit saja terhadap otak akan mengganggu sistem saraf yang lain dan pada akhirnya siswa mungkin tidak termotivasi dalam belajar.[3]
CARA MENGATASI
Dalam rangka usaha mengatasi
kesulitan belajar tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan mencari faktor-faktor
yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab
utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat,
efektif dan efisien.
Secara garis besar, langkah-langkah
yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik,
dapat dilakukan dengan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan
data, diagnostik, pragnosis, treatment, dan evaluasi.Cara mengatasi kesulitan
belajar diantaranya yaitu :
1. Pengumpulan
Data
Untuk menemukan sumber penyebab
kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu
diadakan pengamatan langsungterhadap objek yang bermasalah. Teknik interview
(wawancara) ataupun taknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data.
Baik teknik observasi dan interview maupun dokumentasi, ketiganya saling
melengkapi dalam rangka keakuratan data. Usaha lain yang dapat dilakukan dalam
usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut:Kunjungan rumah,
Case study, Case history, Daftar pribadi, Meneliti pekerjaan anak, Meneliti
tugas kelompok, Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.
Dalam pelaksanaannya, semua metode
itu tidak meski digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya,
kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan
yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana, mungkin dengan satu metode
sudah cukup untuk menemukan faktor apa yang menyebabkan kesulitan belajar anak.
Dan dalam pengumpulan data tidak perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya.
Sebab setiap informasi yang diterima belum tentu data. Informasi yang simpang
siur justru membingungkan. Oleh karenanya, yang betul adalah carilah banyak
informasi melalui sumber yang tepat untuk mendapatkan data
selengkap-lengkapnya. Sehingga data yang lengkap itu dapat diolah dengan cermat
dan sebaik mungkin.[1]
2. Pengolahan
Data
Data yang telah terkumpul tidak aka
nada artinya jika tidak diolah secara cermat. Factor-faktor penyebab kesulitan
balajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang trkumpul itu
masih mentah, belum dianalisis dengan saksama. Langkah-langkah yang dapat
ditempuh dalam pengolahan data adalah sebagai berikut: Identifikasi kasus,
membandingkan antarkasus, Membandingkan dengan hasil tes, dan menarik
kesimpulan.
3. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan
(penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Tentu saja keputusan yang
diambil itu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagnosis
dapat berupa hal-hal sebagai berikut.:
a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat
dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b. Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab
kesulitan belajar anak didik.
c. Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab
kesulitan belajar anak didik.
Karena diagnosis adalah penentuan
jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya atau proses
pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi
keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja diperlukan kecermatan dan
ketelitian yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang menyakinkan itu sebaiknya
minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahlian mereka masing-masing.
4. Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan
hasil diagnosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan
mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari
kesulitan belajar. Dalam penyunsunan program bantuan terhadap anak didik yang
berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyan dengan mengggunakan
rumus 5W + 1H.
5. Treatment
Treatment adalah perlakuan.
Perlakuan di sini dimaksudkan adalah bantuan kepada anak didik yang mengalami
kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap
prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:Melalui
bimbingan belajar individual, bimbingan belajar kelompok, remedial teaching
untuk mata pelajaran tertentu, bimbingan orang tua di rumah, Pemberian
bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis, mengenai cara
belajar yang baik secara umum, dan juga mengenai cara belajar yang baik sesuai
dengan karakteristik setiap mata pelajaran.
Ketepatan treatment yang diberikan
kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada
ketelitian dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan diagnosis. Tapi bisa
juga pengumpulan datanya sudah lengkap dan pengolahan datanya dengan cermat,
tetapi diagnosis yang diputuskan keliru, disebabkan kesalahan analisis, maka
treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar pun
tidak akurat. Oleh karenanya, kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi sangat
dituntut dalam pengumpulan data, pengolahan data dan diagnosis, sehingga pada
akhirnya treatment benar-benar menganai objek dan subjek persoalan.[2]
6. Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk
mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya
ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan
belajar atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang
telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran
jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan
dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau
achievement test. Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu
sebagai pertanda bahwa treatment gagal.
Karenanya, perlu pengecekan kembali
dengan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan
data yang terkumpul kurang lengkap, program yang disusun tidak jelas dan tepat,
atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data,
sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias. Kemungkinan lain bisa
juga terjadi. Datanya lengkap, pengolahan datanya dengan cermat dan teliti,
akurasi diagnosis meyakinkan, dan prognosis dengan jelas dan sistematis, tetapi
karena treatment yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar
tidak sungguh-sungguh, terkesan asal-asalan, juga menjadi pangkal penyebab
gagalnya usaha mengatasi kesulitan belajar anak. Agar tidak terjadi kesalahan
pengertian, di sini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan
bila terjadi di kegagalan treatment berdasarkan evaluasi, di mana hasil
prestasi belajar anak didik masih rendah, di bawah standar.
Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara teoritis lengkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut: Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data), Re-diagnosis, Reprognosis, Re-treatment, Re-evaluasi. Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatment yang kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar. Sebab satu masalah belum selesai, maka masalah lain masih menunggu untuk ditangani.
KESIMPULAN
Menurut National Institute of Health, USA kesulitan belajar adalah hambatan/gangguan belajar pada seorang anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelejensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kesulitan belajar kemungkinan disebabkan oleh gangguan di dalam sisem saraf pusat otak yang dapat menimbulkan genggauan perkembangan seperti gangguan perkembangan berbicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.
Fenomen kesulitan belajar dapat dilihat dari menurunnya penampilan akademik atau prestasi belajarnya. Selain itu, kesulitan belajar dapat dilihat adanya atau munculnya perilaku yang tidak biasa siswa seperti suka berteriak di ruang kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah serta sering kabur dari sekolah. Syah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1. Faktor internal siswa
2. Faktor eksternal siswa
Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar).
Menurut Reber, sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar, yaitu:
1. Disleksia (dyslexia)
2. Disgrafia (dysgraphia)
3. Diskalkulia (dyscalculia)
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan dengan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnostik, pragnosis, treatment, dan evaluasi. Cara mengatasi kesulitan belajar diantaranya yaitu:
1. Pengumpulan data
2. Pengolahan data
3. Diagnosis
4. Prognosis
5. Treatment
6. Evaluasi
[5] Muhibbin Syah,
Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru
(Bandung : Rosda,2011), hal. 252
[6] Ibid,254.
[2] Syah,
Muhibbin, Psikologi Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2000),
hal. 173-174
[3]
Ibid, hal. 174
[4] Stemberg, Robert, Penerjemah Yudi Santoso, Psikologi Kognitif, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008), hal. 28
[1] M. Dalyono, Psikologi
Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta,1997), hal. 209
Tidak ada komentar:
Posting Komentar