Rabu, 20 April 2022

KESULITAN BELAJAR BAGI SISWA DAN CARA MENGATASINYA

 PENGERTIAN

Menurut National Institute of Health, USA kesulitan belajar adalah hambatan/gangguan belajar pada seorang anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelejensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kesulitan belajar kemungkinan disebabkan oleh gangguan di dalam sisem saraf pusat otak yang dapat menimbulkan genggauan perkembangan seperti gangguan perkembangan berbicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.

Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasaa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk konsentrasi

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non inteligensi. Karena dalam kenyataannya cukup banyak anak didik yang memiliki inteligensi yang tinggi, tetapi hasil belajarnya rendah (jauh dari yang diharapkan). Dan juga banyak anak didik dengan inteligensi yang rata-rata normal tetapi dapat meraih prestasi belajar yang tinggi melebihi kepandaian anak didik dengan inteligensi yang tinggi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.[1]

PENYEBAB

        Fenomen kesulitan belajar dapat dilihat dari menurunnya penampilan akademik atau prestasi belajarnya. Selain itu, kesulitan belajar dapat dilihat adanya atau munculnya perilaku yang tidak biasa siswa seperti suka berteriak di ruang kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah serta sering kabur dari sekolah. Syah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:

1. Faktor internal siswa, yakni hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa itu sendiri.

2. Faktor eksternal siswa, yakni hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari luar siswa itu sendiri.[1]

        Kedua faktor ini meliputi aneka  ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut di bawah ini:

a.       Faktor internal siswa

Faktor internal siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:

1)         Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnnya kapasitas intelektual siswa.

2)         Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap

3)   Yang bersikap psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran

b.      Faktor eksternal siswa

Faktor eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkugan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dibagi menjadi tiga macam:

1)      Ligkungan keluarga, contohnya; ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

2)      Lingkungan masyarakat, contohnya; wilayah perkampungan kumuh/kotor, dan teman sepermainan atau sepergaulan yang nakal.

3)     Lingkungan sekolah, contohnya; kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendh.

Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Menurut Reber, sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar, yaitu

1.   Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.

2.   Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidak mampuan belajar menulis.

3.   Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.[2]

           Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahan di antaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karena itu, kesulitan belajar siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak.

        Menurut Sternberg, otak sangat berperan penting terhadap pemrosesan kognitif siswa karena otak adalah organ dalam tubuh kita yang mengontrol langsung pikiran, emosi, dan motivasi kita. Dengan demikian, gangguan sedikit saja terhadap otak akan mengganggu sistem saraf yang lain dan pada akhirnya siswa mungkin tidak termotivasi dalam belajar.[3]

CARA MENGATASI

Dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, efektif dan efisien.

Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan dengan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnostik, pragnosis, treatment, dan evaluasi.Cara mengatasi kesulitan belajar diantaranya yaitu :

1.      Pengumpulan Data

Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsungterhadap objek yang bermasalah. Teknik interview (wawancara) ataupun taknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data. Baik teknik observasi dan interview maupun dokumentasi, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Usaha lain yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut:Kunjungan rumah, Case study, Case history, Daftar pribadi, Meneliti pekerjaan anak, Meneliti tugas kelompok, Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.

Dalam pelaksanaannya, semua metode itu tidak meski digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana, mungkin dengan satu metode sudah cukup untuk menemukan faktor apa yang menyebabkan kesulitan belajar anak. Dan dalam pengumpulan data tidak perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sebab setiap informasi yang diterima belum tentu data. Informasi yang simpang siur justru membingungkan. Oleh karenanya, yang betul adalah carilah banyak informasi melalui sumber yang tepat untuk mendapatkan data selengkap-lengkapnya. Sehingga data yang lengkap itu dapat diolah dengan cermat dan sebaik mungkin.[1]

2.      Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul tidak aka nada artinya jika tidak diolah secara cermat. Factor-faktor penyebab kesulitan balajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang trkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan saksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pengolahan data adalah sebagai berikut: Identifikasi kasus, membandingkan antarkasus, Membandingkan dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.

3.      Diagnosis

Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Tentu saja keputusan yang diambil itu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut.:

a.    Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.

b.    Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

c.    Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

Karena diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang menyakinkan itu sebaiknya minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahlian mereka masing-masing.

4.      Prognosis

Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar. Dalam penyunsunan program bantuan terhadap anak didik yang berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyan dengan mengggunakan rumus 5W + 1H.

5.      Treatment

Treatment adalah perlakuan. Perlakuan di sini dimaksudkan adalah bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:Melalui bimbingan belajar individual, bimbingan belajar kelompok, remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu, bimbingan orang tua di rumah, Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis, mengenai cara belajar yang baik secara umum, dan juga mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.

Ketepatan treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada ketelitian dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan diagnosis. Tapi bisa juga pengumpulan datanya sudah lengkap dan pengolahan datanya dengan cermat, tetapi diagnosis yang diputuskan keliru, disebabkan kesalahan analisis, maka treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar pun tidak akurat. Oleh karenanya, kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi sangat dituntut dalam pengumpulan data, pengolahan data dan diagnosis, sehingga pada akhirnya treatment benar-benar menganai objek dan subjek persoalan.[2]

6.      Evaluasi

Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement test. Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal.

Karenanya, perlu pengecekan kembali dengan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan data yang terkumpul kurang lengkap, program yang disusun tidak jelas dan tepat, atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data, sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias. Kemungkinan lain bisa juga terjadi. Datanya lengkap, pengolahan datanya dengan cermat dan teliti, akurasi diagnosis meyakinkan, dan prognosis dengan jelas dan sistematis, tetapi karena treatment yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar tidak sungguh-sungguh, terkesan asal-asalan, juga menjadi pangkal penyebab gagalnya usaha mengatasi kesulitan belajar anak. Agar tidak terjadi kesalahan pengertian, di sini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi di kegagalan treatment berdasarkan evaluasi, di mana hasil prestasi belajar anak didik masih rendah, di bawah standar.

Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara teoritis lengkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut: Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data), Re-diagnosis, Reprognosis, Re-treatment, Re-evaluasi. Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatment yang kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar. Sebab satu masalah belum selesai, maka masalah lain masih menunggu untuk ditangani.

KESIMPULAN

    Menurut National Institute of Health, USA kesulitan belajar adalah hambatan/gangguan belajar pada seorang anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelejensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kesulitan belajar kemungkinan disebabkan oleh gangguan di dalam sisem saraf pusat otak yang dapat menimbulkan genggauan perkembangan seperti gangguan perkembangan berbicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.

    Fenomen kesulitan belajar dapat dilihat dari menurunnya penampilan akademik atau prestasi belajarnya. Selain itu, kesulitan belajar dapat dilihat adanya atau munculnya perilaku yang tidak biasa siswa seperti suka berteriak di ruang kelas, mengganggu teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah serta sering kabur dari sekolah. Syah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:

1. Faktor internal siswa

2. Faktor eksternal siswa

    Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). 

    Menurut Reber, sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar, yaitu:

1. Disleksia (dyslexia)

2. Disgrafia (dysgraphia)

3. Diskalkulia (dyscalculia)

    Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan dengan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnostik, pragnosis, treatment, dan evaluasi. Cara mengatasi kesulitan belajar diantaranya yaitu:

1. Pengumpulan data

2. Pengolahan data

3. Diagnosis

4. Prognosis

5. Treatment

6. Evaluasi 



[5] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru  (Bandung : Rosda,2011), hal. 252

[6] Ibid,254.

[2] Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2000), hal. 173-174

[3] Ibid, hal. 174

[4] Stemberg, Robert, Penerjemah Yudi Santoso, Psikologi Kognitif, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008), hal. 28

[1] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta,1997), hal. 209


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Latar belakang      Hari akhir disebut juga hari kiamat adalah hari dimana alam semesta dan seisinya akan hancur dan binasa. Pada hari itu s...